2 users like this slide


7 Responses to “Ibu Bekerja: Manajemen Waktu [dan perasaan]”

  1. wilita putrinda says:

    Salah satu hal yang saya suka lakukan jika saya tak ada waktu berinteraksi yang berkualitas dengan anak-anak adalah janjian untuk ‘ngedate’ di suatu waktu tertentu, bisa berupa mencoba restoran baru, mencoba makanan baru atau menonton film istimewa di kelas premier yang kita putuskan bersama. Saya menikmati proses dimana anak2 dan saya dan juga bapaknya melakukan negosiasi untuk menentukan pilihan itu, seru banget jadinya. Makasih telah mengangkat topik ini yaa.

  2. Lestari Utami says:

    Karena saya dan suami sama-sama kerja di station televisi jadi waktu ngantor kami lebih fleksibel. Bisa datang lebih siang, tapi kadang konsekuensinya pulangnya juga lebih malam (banget) :D Gak jarang juga sih bisa pulang lebih cepat. Dinamis lah pokoknya :D
    Memasuki masa mpasi, rasanya mulai keteteran. Soalnya saya ingin&harus masak sendiri buat anak saya. Menu sarapan,makan siang,sore&cemilan harus saya siapkan di pagi hari, biar ibu saya yg jagain si kecil gak kerepotan. Selain masak, saya suka keukeuh klo nyuapin, mandi,pake baju dan kelonin bobo pagi semua harus sama saya. Karena itulah ‘quality time’ versi saya. Tapi ya mana mungkin, bisa-bisa malah gak ngantor…alhasil suami pun dilibatkan untuk berbagi tugas. Kalo saya masak, dia yg nyuapin&mandiin. Ternyata suami merasa lebih senang krn dilibatkan dlm mengurus anak. Dan dilihat-lihat sih anak kami sarapannya bisa lebih banyak klo disuapin bapaknya, mungkin karena saya suka gak sabaran&malah bikin suasana makan jd gak menyenangkan hihihi *jitak kepala sendiri*. Akhirnya memang harus berdamai pada kondisi bahwa gak semuanya bisa saya handle. Sebagai ibu bekerja, meminta tolong&berbagi tanggung jawab dgn suami/nenek/pengasuh itu sangat lumrah dilakukan. Ditengah-tengah kesibukan kantor, wajib hukumnya untuk menelpon ke rumah untuk menanyakan kondisi anak. Rutinitas kecil yang mudah-mudahan bikin anak saya mengerti bahwa meskipun ibunya gak ada di rumah, tapi saya selalu memperhatikan dia.

  3. Kiki says:

    Sebagai ibu rumah tangga yang tinggal hanya bertiga bersama suami dan anak semata wayang tanpa ditemani keluarga atau ART, membagi waktu antara masak, beres2 rumah, mengasuh anak, “pacaran” dg suami dan me time jelas butuh taktik tersendiri. Saya masih ingat bagaimana stresnya saat awal2 jadi ibu, yang bahkan mandi saja mjd barang mewah.
    Tapi melalui berbagai trial n error, akhirnya saya temukan celah untuk menikmati identitas sbg ibu, istri dan diri sendiri. Untuk urusan dapur, kami mengikuti food combining, artinya sarapan cuma buah, otomatis sangat hemat waktu krn tdk perlu memasak di pagi hari. Saya mulai masak sekitar jam 10 pagi saat Kian (anak saya) sedang tidur. Kalau ga sempat masak, ya tinggal beli. Saya ambil gampangnya saja, daripada stres karena terlalu idealis ingin semua dikerjakan sendiri:D
    Karena tak punya ART atau babysitter, otomatis saya mengasuh anak sendiri selama 24jam. Apalagi kami memutuskan tak beli tv, jd tidak ada pengalih perhatian si kecil. Maka sebisa mungkin saya melibatkan si kecil ke dalam kegiatan saya, misalnya dia bantu mengupas bawang saat saya memasak (meski dapur jadi lebih berantakan), atau ikut pegang kemoceng saat saya bersih2. Selain melatih motoriknya, keterlibatannya jg memperkuat bonding, sekalian mencontohkan berbagai kegiatan. Di umurnya yg blm genap 2th, Kian sudah hafal banyak nama sayur dan alat masak, bahkan punya inisiatif ambil sapu dan cikrak saat melihat lantai kotor:D
    “Pacaran” dg suami sebisa mungkin kami sempatkan selepas Kian tidur, meski kadang cuma nonton film di laptop. Dan saat wiken, suami banyak habiskan waktu main dg si kecil, sehingga saya bisa sekedar mandi lebih lama atau baca buku sendirian di kamar sbg bentuk me time. Yang jelas, saya berhenti mencoba jd ibu sempurna dg menurunkan standar kebersihan rumah:D

  4. Michelle Sahetapy says:

    Saya full sebagai ibu rumah tangga setahun yang lalu, karena saya ingin fokus urus anak saya. Sekarang anak saya sudah masuk taman bermain besar, nah aktivitas saya banyak berputar sekitar anak saya. Ya anter-nunggu dia sekolah, menemani bermain di rumah, pokonya sebisa mungkin semua urusannya saya yang handle.

    Kebetulan suami bekerja dengan jam kerja yang cukup padat, jadi ketemu saya dan anak saya cuma di pagi hari dan malam hari sepulang kantor, itupun dengan catatan kalau kami belum tidur ya. Untung suami saya gak nuntut harus “dilayani” terus, cukup mandiri lah. Dia cukup mengerti kalau mengurus anak laki-laki yang lagi aktif-aktifnya menguras energi yang luar biasa.

    Walaupun sudah gak kerja saya tetap keep in touch sama teman-teman bergaul saya, pengennya si tetap terjalin hubungan baik juga, karena mereka mewarnai hidup saya.

    Butuh energi lho urus anak, suami dan tetap bergaul sama teman-teman. Saya memang gak mau setelah menikah saya gak punya pertemanan lagi, karena menurut saya teman juga keluarga, tidak bisa kita lupakan begitu aja. Nah, ini pilihan me time saya dibanding ke salon, bergaul sama “keluarga” selain yang di rumah ,p

  5. Mutia Ramadhanti H says:

    Sediakan Hati untuk Anak! Itu mantra jimat yang selalu saya tanam dalam diri sendiri.
    Saya adalah ibu dari seorang putri berusia 1 tahun, Mahreen Arfia Zhafira. Sebagai seorang working mom saya pasti memiliki waktu yang sedikit dibandingkan dengan full mom. Tapi itu tidak menjadi kendala bagi saya. Sebelum berangkat kerja, saya selalu menyempatkan untuk membawa anak saya jalan-jalan di taman komplek, setelah itu saya mandikan ia dan kemudian menyuapinya. Setelah beres urusan anak, saatnya saya beres-beres menyiapkan perlengkapan ke kantor. Sebelumnya, pada malam hari saya sudah menyetrika baju+celana+jilbab untuk ke kantor, jadi pagi hari hanya menyiapkan perlengkapan ASI saja :)
    Untungnya jam masuk kantor saya siang, jadi saya bisa berangkat dari rumah jam 8 pagi.
    Anak saya tinggal di rumah dengan kakek dan neneknya, tentu saja itu membuat hati saya tenang, tidak khawatir sama sekali.
    Sewaktu jam istirahat di kantor, saya selalu menelepon anak saya, menanyakan bagaimana kabarnya di rumah dan juga saya selalu menyanyikan 2 lagu favoritenya (Anak Gembala dan Cicak Cicak di dinding) :)
    Pulang kantor sesampainya di rumah (jam 7 malam), saya langsung bermain-main dengan anak dan kemudian menidurinya jam 8 malam. Yap! itulah rutinitas saya tiap hari Senen-Jumat.
    Sabtu dan Minggu waktunya 2×24 jam bersama anak saya. Saya dengan suami selalu bermain-main ke taman dan keliling-keliling komplek dengan sepedanya pada pagi hari. Selanjutnya dipenuhi dengan bermain-main di rumah. Sore harinya kami juga bermain-main ke taman dan kadang naik delman keliling-keliling komplek (delman hanya ada hari Sabtu Minggu) :D
    Bagi saya, walaupun waktu bersama anak ‘terbatas’ yang terpenting adalah selalu Sediakan Hati untuk Anak. Buat apa kalau kita memiliki waktu yang banyak untuk anak tetapi hati kita tidak total 100% untuknya?
    Semoga mantra jimat itu selalu tertanam dalam diri saya sepanjang usia, Aamiin :)

  6. putri, w. says:

    Kantor saya ada di rumah. Ini tentu saja memberikan tantangan berbeda dari kebanyakan orang yang bekerja di kantor. Terutama dari segi pemisahan ‘kerja’ dan ‘keluarga’.
    Ini penting bagi saya, karena saya merasa saya bukan multitasker yang baik. Menurut pengalaman, saya tidak bisa bekerja sambil mengasuh anak atau sebaliknya. Pasti ada salah satu yang tidak maksimal saya kerjakan.

    Kondisi ini membuat saya harus super lihai mencari waktu bekerja tanpa mengesampingkan anak. Pekerjaan biasanya dikerjakan sementara anak saya tidur atau bermain dengan orang lain. Selain itu, saya juga harus super efisien membagi waktu bekerja. Nggak ada lagi di tengah bekerja bengong atau browsing ke situs medsos. Keburu anaknya bangun atau minta main. Yang ada pekerjaan tidak selesai :D

    Karena kantor juga di rumah, otomatis rutinitas akan berputar di sekeliling rumah dan kegiatan yang itu-itu saha. Kalau sudah begini, bisanya bosan menyerang. Tiap orang punya caranya sendiri untuk menyegarkan diri. Kebetulan, saya memang bukan tipe yang suka jalan-jalan. Saya merasa lebih fresh setelah berkesperimen di dapur, mengerjakan proyek menjahit yang bisa berlangsung selama beberapa minggu, ngobrol online sejenak dengan teman, atau sekedar browsing ke situs favorit di internet.


  7. Halo!

    Selamat untuk:
    1. Wilita Putrinda
    2. Lestari Utami
    3. Kiki
    4. Michelle Sahetapy
    5. Mutia Ramadhanti H

    Memenangkan voucher 100ribu dari belowcepek.com.
    Voucher akan dikirim ke alamat email Anda.
    Cara penggunaan, syarat dan ketentuan voucher tertera pada voucher.

    Terima kasih untuk partisipasinya :)

Leave a Reply